Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan
Jan1970
Dibuka
8 Kali
KALIREJO, WIROSARI – Di berbagai penjuru Pulau Jawa, khususnya di desa-desa agraris seperti Desa Kalirejo, tradisi Sedekah Bumi atau Apitan selalu dirayakan dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Rangkaian acaranya meriah, mulai dari doa bersama, arak-arakan gunungan hasil bumi, hingga yang paling ikonik: pemotongan hewan kerbau.
​Namun, pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana sejarah mula tradisi Sedekah Bumi ini? Dan mengapa dari sekian banyak hewan ternak, kerbau-lah yang sering kali dipilih untuk disembelih, bukannya sapi atau kambing?
​Akar Sejarah Tradisi Sedekah Bumi
​Sedekah Bumi pada dasarnya adalah bentuk akulturasi budaya yang sangat indah antara tradisi agraris Nusantara kuno dengan nilai-nilai ajaran Islam. Sejak zaman pra-Hindu-Buddha, masyarakat Jawa purba yang hidup dari bertani telah memiliki kebiasaan memberikan penghormatan kepada alam semesta dan roh leluhur penjaga tanah agar panen senantiasa melimpah.
​Ketika Islam masuk ke tanah Jawa melalui dakwah para Wali Songo, tradisi ini tidak dihilangkan, melainkan diselaraskan dan dimaknai ulang (Islamisasi budaya). Mantra-mantra diganti dengan lantunan zikir, tahlil, dan ayat suci Al-Qur'an. Sesajen yang dulunya dibuang atau dibiarkan, diubah menjadi berkat atau ambengan yang dikumpulkan di masjid atau balai desa untuk didoakan, lalu dimakan bersama-sama sebagai wujud sedekah dan silaturahmi.
​Tujuannya pun bergeser murni menjadi wujud syukur kepada Allah SWT (Rabb semesta alam) atas rezeki yang ditumbuhkan dari perut bumi, serta memohon perlindungan dari segala balak (bencana).
​Mengapa Menyembelih Kerbau, Bukan Sapi?
​Bagi masyarakat pesisir utara dan Jawa Tengah, termasuk wilayah Grobogan, Kudus, Pati, dan Demak, menyembelih kerbau (Mahesa) saat perayaan besar seperti Sedekah Bumi memiliki sejarah dan filosofi yang sangat dalam. Ada dua alasan utama di balik pemilihan hewan bertubuh kekar ini:
​1. Warisan Toleransi Beragama Era Wali Songo
Alasan sejarah yang paling kuat berkaitan dengan strategi dakwah Sunan Kudus pada abad ke-16. Pada masa peralihan Majapahit ke Kesultanan Demak, masyarakat Jawa masih banyak yang memeluk agama Hindu. Dalam kepercayaan Hindu, sapi adalah hewan suci dan kendaraan Dewa Siwa (Lembu Nandini) yang pantang untuk disakiti, apalagi disembelih.
​Untuk menghormati perasaan umat Hindu dan menarik simpati mereka agar hidup rukun berdampingan, Sunan Kudus melarang pengikutnya menyembelih sapi, baik untuk konsumsi sehari-hari, hari raya kurban, maupun hajatan desa. Sebagai gantinya, Sunan Kudus menganjurkan penyembelihan kerbau. Pesan toleransi yang luar biasa ini mengakar kuat dan menjadi tradisi turun-temurun di berbagai wilayah, termasuk di Desa Kalirejo, hingga hari ini.
​2. Simbol Penghargaan Tertinggi Petani (Rojo Koyo)
Dalam kultur agraris Jawa, kerbau adalah Rojo Koyo (harta kekayaan berupa hewan ternak) yang posisinya sangat vital. Kerbau adalah pahlawan pembajak sawah yang menemani petani memeras keringat di lumpur demi menghasilkan padi.
​Secara filosofis, menyembelih kerbau dalam acara Sedekah Bumi adalah wujud pengorbanan harta yang paling berharga. Petani rela menyedekahkan "pahlawan" sawah mereka untuk dinikmati bersama-sama oleh seluruh warga desa, baik yang kaya maupun yang miskin. Ini mengajarkan sifat tidak tamak pada harta duniawi dan menumbuhkan kepedulian sosial yang amat tinggi.
​Lebih dari itu, kerbau juga sering disimbolkan sebagai sifat kebodohan dan kemalasan. Maka, menyembelih kerbau secara hakikat bermakna "menyembelih" atau menghilangkan sifat-sifat buruk, kebodohan, dan egoisme dalam diri manusia.
​Merawat Warisan, Menjaga Kerukunan
​Tradisi menyembelih kerbau dan membagikan dagingnya secara swadaya dalam rangkaian Sedekah Bumi di Dusun Beru maupun Dusun Pojok, Desa Kalirejo, bukanlah sekadar ritual hura-hura.
​Itu adalah monumen hidup dari kearifan lokal. Sebuah jejak sejarah yang mengajarkan kita tentang tingginya nilai toleransi peninggalan para wali, rasa syukur yang tidak terhingga kepada Tuhan, dan indahnya semangat gotong-royong. Mari terus kita lestarikan peninggalan luhur ini agar generasi mendatang tetap mengenal jati dirinya. (bj)

