Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan
Apr2022
Dibuka
267 Kali
Raden Danoewikromo lahir pada tahun 1804 di Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari, Jawa Tengah, Hindia Belanda. Ia dikenal sebagai tokoh pejuang dalam Perang Diponegoro (1825–1830) dan merupakan kakek buyut dari Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
Menurut sebagian sumber, Raden Danoewikromo adalah putra dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkudiningrat (cucu Sultan Hamengku Buwono II) dan Raden Ayu Kustinah. Ia memiliki beberapa saudara, antara lain Kanjeng Raden Tumenggung Mangkuwijoyo (Pangeran Adipati Mangkudiningrat II), Pangeran Arya Tjakraningrat, Raden Mangku Wilaya (Pangeran Arya Suriya Mataram), Radin Sasra Atmaja (Pangeran Arya Pakuningrat), Kolonel Raden Mas Papak (Raden Tumenggung Mangkundirja), Pangeran Arya Papak, dan Pangeran Arya Pakuningprang.
Namun, menurut versi lain, sebagaimana ditulis Sugeng Haryadi dalam Menyingkap Asal-usul Bung Karno (1998), Raden Danoewikromo adalah putra Raden Mangoendiwirjo, seorang pejabat di Wirosari pada masa setelah Perjanjian Giyanti (1755). Perbedaan kedua versi ini lebih banyak pada penyebutan nama ayahnya, tetapi hasil penelusuran menyatakan bahwa Pangeran Harya Mangkudiningrat dan Raden Mangoendiwirjo I sebenarnya adalah sosok yang sama.
Ketika Perang Diponegoro pecah pada tahun 1825, Raden Danoewikromo yang masih berusia sekitar 20 tahun ikut bergabung melawan Belanda. Ia berjuang bersama tokoh-tokoh lain seperti Pangeran Adipati Natapraja, Pangeran Serang, dan istrinya, meskipun berbeda wilayah.
Dalam perjalanannya, ia tidak sampai ikut bertempur di Gunung Lawu, melainkan berhenti di sepanjang aliran Sungai Lusi. Di sana ia membangun benteng pertahanan untuk menghadang pasukan Belanda yang hendak menuju Rajekwesi. Seiring waktu, ia menetap di Wirosari, membangun permukiman, dan tinggal bersama keturunannya hingga akhir hayatnya.
Pada tahun 1830, Raden Danoewikromo menikahi seorang putri dari Wirosari. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai beberapa anak, yaitu:
Raden Bui Hardjodikromo
Raden Kromoatmojo
Raden Soemodiwirjo
Raden Mangoendiwirjo
Raden Nganten Kartodiwirjo
dan yang bungsu, Raden Hardjodikromo (kakek Bung Karno).
Raden Danoewikromo wafat pada tahun 1860 di Desa Kalirejo, Wirosari. Ia dimakamkan di Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Salah satu anaknya, Raden Hardjodikromo, pernah menjadi carik (juru tulis) di Desa Kalirejo. Namun kemudian ia pindah ke Tulungagung dan wafat di sana. Putra Raden Hardjodikromo, yaitu Raden Soekemi Sosrodiharjo, lahir di Kalirejo pada tahun 1872.
Raden Soekemi kemudian menjadi seorang guru dan menikah dengan Nyoman Rai Srimben di Bali. Dari perkawinan inilah lahir Ir. Soekarno, Sang Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia.

